Langsung ke konten utama

KUMPULAN TUGAS EJAAN BAHASA INDONESIA

KUMPULAN TUGAS EYD

NAMA : RADEN TAMIMI ALWANI

NPM    : 201214013

KELAS  : 3A (PBSI)

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 3

LATIHAN 1 EYD

CONTOH 50 SOAL EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

PILIHLAH JAWABAN YAN TEPAT DAN BERIKAN ALASANNYA

 

Nama  : Raden Tamimi Alwani

Nim     : 201214013

Kelas    : 3A

 

*Jawaban yang saya pilih adalah huruf yang bercetak tebal.

 

1.      Berita itu muncul dalam surat kabar Indonews. Penulisan untuk nama surat kabar yang berhuruf miring pada kalimat diatas yang benar  adalah . . . .

a.      berita itu muncul dalam surat kabar indonews

b.      berita itu muncul dalam surat kabar Indonews

c.      Berita itu muncul dalam surat kabar Indonews

Alasan = Karena nama surat kabar harus ditulis menggunakan huruf miring.

 

2.                  Penulisan pada pemakaian koma yang benar yaitu . . .

a.      Saya membeli kertas, pena dan tinta.

b.      saya membeli kertas, pena, dan tinta.

c.      SAYA membeli kertas, pena dan tinta,

Alasan = Karena tanda koma digunakan di antara unsur – unsur dalam suatu 

pemerincian.

 

3.                  Sang Sapurba mendengarkan bunyi gemerisik.

Pemakaian tanda kurung siku [. . . ] pada kata yang bergaris bawah yang benar adalah. 

a.      Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

b.      Sang sapurba mend[e]ngar bunyi gemerisik

c.      Sang sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

Alasan = Karena tanda siku dipakai untuk mengapit kata, huruf, atau kelompok kata 

sebagai koreksi atau sebagai tambahan atas kesalahan maupun kekurangan

dalam naskah asli.

 

4.                  Kosakata lagu daerah Banyuwangi. Pemenggalan kata yang bergaris bawah sesuai EYD adalah  . . . .

a.      Kosa kata lagu daerah Banyuwangi.

b.      Kosakata lagu daerah Banyuwangi.

c.      Ko-sakata lagu daerah Banyuwangi

Alasan = Karena pada penulisan kosakata sudah sesuai dengan EYD, karena kosakata 

merupakan dua kata yang dijadikan satu dasar dan tidak dapat dipenggal 

karena jika dipenggal akan memiliki makna yang berbeda.

 

5.                  Kosakata using arkhais. Penulisan kata bercetak tebal berdasarkan EYD diatas adalah  . . . .

a.      Kosakata using arkais.

b.      Kosa kata using arkhais

c.      Kosakata using arkha-is

Alasan = Kata arkhais atapun arkais memiliki arti yang sama, tetapi dipilihan A kata

kosakata tidak dipenggal.

 

6.                  Mandeskripsikan makna leksikal. Penulisan kata yang benar bercetak tebal diatas adalah  . . . .

a.      Mindiskripsikan makna leksikal.

b.      Mendiskripsi kan makna leksikal

c.      Mendiskripsikan makna leksikal.

Alasan = Karena kata yang benar itu mendiskripsikan yang artinya penggambaran 

dengan kata – kata secara jelas dan terperinci. Bukan mandeskripsikan yang

tidak memiliki arti.

 

7.                  Habis gelap terbitlah terang.

Penulisan kalimat judul diatas yang benar menurut EYD adalah . . . .

a.      HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

b.      HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

c.      HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Alasan = Karena untuk menegaskan bagian – bagian karangan seperti judul buku.

 

8.                  Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Kalimat diatas penulisan ungkapan asing yang digaris bawah yang benar yaitu  . . . .

a.      Negara itu telah mengalami empat kali Kudeta.

b.      Negara itu telah mengalami empat kali KUDETA.

c.      Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Alasan = Karena huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam

bahasa asing.

 

9.                  Penulisan bentuk ulang yang benar menurut EYD adalah  . . . .

a.       Gedung-gedung tinggi.

b.       Sesekali waktu.

c.       Rumah” warga.

Alasan = Karena menggunakan tanda hubung (-) diantara unsur pertama.

 

10.              Penulisan partikel pada kalimat dibawah ini yang benar yaitu . . . .

a.      Bacalah buku itu baik-baik!.

b.      Baca lah buku itu baik-baik!.

c.      Baca_lah buku itu baik-baik!

Alasan = Karena partikel –lah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

 

11.              Harimau itu marah sekali kepada sangKancil. Kalimat diatas untuk penulisan kata sang yang benar adalah . . .

a.        itu marah sekali kepada sang Kancil.

b.        HARIMAU itu marah sekali kepada sang kancil,

c.        Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.

Alasan = Karena penggunaan kata Sang menunjukkan julukan. Jadi, huruf pertama

               unsur nama orang, termasuk julukan harus menggunakan huruf kapital.

 

12.              Kalimat pernyataan pemakaian tanda titik yang benar dibawah ini yaitu, kecuali  . . . .

a.      Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

b.      Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

c.      Penduduk Jakarta lebih dari 11000 orang

Alasan = Karena seharusnya menggunakan titik untuk memisahkan bilangan ribuan

               atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

 

13.              Penulisan ejaan yang benar pada kalimat dibawah adalah  . . . .

            a.      Kata ibu, “saya gembira sekali.”

            b.      Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”

            c.      Kata ibu, “saya gembira Sekali”.

Alasan = Karena huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

 

14.              Pemakaian tanda koma yang benar pada kalimat  . . . .

a.      Wah begitu indah!.

b.      O, begitu?

c.      Mengapa kau diam. Dik?

Alasan = Karena tanda koma dipakai sebelum atau sesudah kata seru, seperti o, ya, 

wah, aduh atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau  Nak.

 

15.              Penulisan pada tanda titik dua yang tepat adalah  . . . .

a.      Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati

b.      Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan;” hidup atau mati.”

c.      Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan_ hidup atau mati.

Alasan = Karena tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang

diikuti pemerincian atau penjelasan.

 

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 4

Nama   : Raden Tamimi Alwani

NIM    : 201214013

Kelas   : 3A

Prodi   : PBSI

 

 

LATIHAN EYD

KERJAKAN LATIHAN DI BAWAH DENGAN CARA PILIH JAWABAN YANG TEPAT DAN BERIKAN ALASANNYA.

 

 

1.      Penulisan pertikel (per) yang tepat yaitu kecuali . . . .

a.      Mereka masuk ke dalam satu per satu.

b.      Harga kain itu Rp 50.000,00 per helai.

c.      Pegawai itu mendapat kenaikan gaji per1januari.

Alasan : Karena partikel per –nya tidak terpisah dari kata yang mengikutinya.

 

2.      Penulisan huruf kapital untuk nama jabatan yang benar adalah, kecuali  . . . .

a.      Sidang itu dipimpin Presiden.

b.      Kegiatan itu direncanakan oleh departemen.

c.      Siding itu diadakan di ruang Kementerian.

Alasan : Karena seharusnya Departemen menggunakan huruf kapital sebagai

         huruf pertama nama instansi.

 

3.      Kata baku dibawah ini yang benar menurut EYD yaitu, kecuali  . . . .

a.      Abjad

b.      Asyik

c.      Apotik

Alasan : Karena kata baku yang benar menurut EYD adalah apotek.

 

4.      Pemakaian tanda koma (,) yang benar pada kalimat, kecuali  . . . .

a.      Tokyo, Jepang

b.      Raya 6 Jakarta

c.      Surabaya, 10 Mei 1960

Alasan : Karena tidak ada tanda komanya.

 

5.      Ai tetap au

Penulisan kata serapan yang benar dibawah ini, yaitu . . . .

a.      Audiogram

b.      Totrof

c.      Autrotrop

Alasan : Karena kata serapan itu adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang

         diadopsi ke bahasa Indonesia.

 

 

6.      Kalimat dibawah yang menggunakan kata turunan yaitu . . . .

a.      Petani 

b.      Lukisan

c.      Mau

Alasan : Karena kata turunan juga disebut kata berimbuhan, jadi dikata lukisan

         terdapat imbuhan akhiran yaitu an karena kata dasarnya lukis.

 

7.      Kata titik dua (:) yang benar adalah  . . .

a.      Ketua Ratu Abi  

b.      Sekretaris  : Bardawati

c.      Ratu keadadilan

Alasan : Karena tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang

         memerlukan pemerian.

 

8.      Penulisan kata pertikel yang benar dibawah ini adalah kecuali . . . .

a.       Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

b.      Ada pun sebabnya belum diketahui.

c.       Bagaimanapun itu, tugas harus diselesaikan.

Alasan : Karena partikel pun di kalimat itu merupakan unsur dari kata pengubung

         maka harus ditulis serangkai.

 

9.      Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Penulisan huruf miring pada kata serapan dibawah ini yang tepat dengan EYD yaitu  . . . .

a.      Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana

b.      Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mangostana

c.      Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Alasan : Karena huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan

         dalam bahasa daerah atau bahasa asing.

 

10.  Penulisa huruf cetak tebal yang benar dalam EYD ,kecuali  . . . .

a.      Makalah ini memiliki BAB PENDAHULUAN .

b.      skripsi itu terdapat daftar, indeks dan lampiran

c.      Judul laporannya berjudul : CINTA TANAH AIR.

Alasan : Karena huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian – bagian karangan,

         seperti judul buku, bab, atau subbab.

 

11.  Cara penulisan  singkatan resmi dibawah ini yang tepat adalah . . . .

a.      DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)

b.      PT peseroan terbatas

c.      KTP (Kartu Tanda Penduduk)

Alasan : Karena singkatan resmi itu terdiri atas huruf setiap kata nama lembaga

        pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau

        organisasi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

  

12.  Penulisan kata singkatan dibawah ini yang sesuai EYD, kecuali   . . .

a.      Jml.

b.     Halaman.

c.      Kpd.

Alasan : Karena penulisan kata singkatan yang terdiri atas tiga huruf, dan kata

         singkatan yang benar adalah hlm.

 

13.  Penulisan akronim dibawah ini yang tepat dengan EYD, kecuali . . . .

a.      Rp

b.      LIPI

c.      PASI

Alasan : Semua jawaban tepat sesuai dengan EYD.

 

14.  Hotel Mahameru, kamar 169.

            Penulisan ejaan yang benar pada kalimat diatas adalah . . .

a.      Hotel Mahameru, Kamar 169.

b.      Hotel MahaMeru. Kamar 169.

c.      Hotel Mahameru, Kamar 169.

Alasan : Karena keduanya benar dari penulisan huruf kapitalnya, peletakan tanda

         titik dan komanya sudah sesuai dengan penulisan ejaan yang benar.

 

15.  Kalimat dibawah ini yang benar dengan pemakaian tanda koma EYD, kecuali . . . .

a.      12,5 m

b.      Rp 500, 50

c.      273 m

Alasan : Karena tidak terdapat tanda koma.

 

16.  Tanda hubung yang digunakan untuk pengulangan kata ulang pada kalimat dibawah ini yang benar     adalah  . . . .

a.      Anak anak

b.      Berulang-ulang

c.      Merak kemerahan

Alasan : Karena tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.

 

17.  Alangkah indahnya taman laut ini.

            Penulisan pernyataan di atas dijadikan kalimat perintah adalah  . . . .

a.      Alangkah indahnya taman laut ini !

b.      Alangkah indahnya taman laut ini?

c.      Alangkah indahnya taman laut ini.

Alasan : Karena menggunakan tanda seru untuk mengakhiri ungkapan yang

         berupa perintah yang menggambarkan sungguhan atau emosi yang kuat.

 

 

18.  Kata dia saya juga minta satu

            Penulisan yang benar dengan memerhatikan tanda bacanya yaitu . . . .

a.      Kata dia, “saya juga minta satu”.

b.      Kata dia, saya Juga minta Satu.

c.      Kata dia, “Saya juga minta satu.”

Alasan : Karena tanda koma yang digunakan untuk memisahkan petikan langsung

         dari bagian lain dalam kalimat, juga tanda petikan dipakai untuk

         mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan.

 

19.  Ani di sekolahan mendapatkan bea siswa.

            Penulisan kata bergaris bawah yang benar adalah . . . .

a.      Beasiswa.

b.      Bea siswa

c.      beaSiswa.

Alasan : Karena kata yang benar dan baku adalah beasiswa.

 

20.  Kemaren sore si Andi mengikuti les tambahan.

            Kata baku yang tepat untuk kata bergaris bawah yaitu . . .

a.      kemaren.

b.      Kemarin.

c.      Kimaren.

Alasan : Karena itu adalah kata yang benar dan baku sesuai EYD.

 

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 5

LATIHAN EYD KE 3

Nama  : Raden Tamimi Alwani

NIM     : 201214013

Kelas    : 3A

IDENTIFIKASILAH IKLAN DAN BROSUR DI BAWAH INI DAN ANALISISLAH EJAANNYA, YANG TEPATNYA SEPERTI APA


Pada brosur ini cara penulisan ejaannya yang benar, seperti “Pintar itu mahal. Ayo kita belajar!”

Karena huruf pertama itu seharusnya menggunakan huruf kapital, huruf kapital juga tidak bisa diletakkan dibagian tengah kata seperti gambar tertulis mAhAl, tentu itu adalah penulisan yang salah. Sedangkan pada kalimat ayo kita belajar, seperti menunjukkan perintah dan pastinya ketika kita mengatakan kalimat tersebut harus dengan semangat. Jadi, pada kalimat itu seharusnya diberi tanda seru karena itu jelas perintah.

Pada iklan tersebut, cara penulisan yang benar adalah “Indomie goreng, buat nonton bola makin semangat!”

Karena huruf kapital tidak bisa digunakan disatu kalimat penuh, huruf kapital yang digunakan dalam satu kalimat penuh terkesan berlebihan dan terdapat kata tidak baku yaitu bikin, yang menurut KBBI kata baku dari bikin adalah buat. Serta tidak ada penambahan tanda koma setelah kalimat indomie goreng.



Pada papan pemberitahuan tersebut , memiliki makna penyampaian yang kurang jelas.

Kata jualan dalam KBBI adalah barang barang yang dijual, nah jadi semakin membingungkan. Kenapa barang – barang yang dijual atau dagangan dilarang masuk? Seharusnya kata jualan diganti menjadi pedagang. Seharusnya cara penulisan yang tepat adalah “Pedagang dilarang masuk.” Atau “Yang  berjualan dilrang masuk.” Jadi jika papan pemberitahuan tersebut menulis seperti itu pasti maknanya jelas.

Pada iklan tersebut cara penulisan ejaan yang benar adalah


Toyata Termurah!

New Avanza

Ready stock

Free hadiah, tanpa undian!

DP murah dan angsuran ringan,

Proses cepat dan mudah,

Data bisa dibantu.

Kami berikan service & harga yang terbaik.

Ready stock, bisa tukar tambah!

Narahubung Edi


Dari iklan ini penulisannya sudah cukup bagus, tetapi jikalau ditambah tanda baca pasti akan lebih bagus lagi. Dan pada kalimat kami berikan sevice & harga yg tebaik, itu seharusnya kata yang tidak disingkat. Dan untuk kalimat terakhir yaitu info hubungi edi, diganti ke kalimat narahubung Edi, agar makna penyampaiannya lebih tepat.


Pada iklan ini cara penulisan ejaan yang benar adalah

Laundry Sederhana

Menerima segala macam jenis cucian:

·         Pakaian

·         Karpet

·         Boneka

·         Gorden

·         Tas

·         Sepatu

·         Dll

Siap antar jemput.

Pada iklan ini cara penulisannya sudah lumayan banyak yang tepat sesuai EYD, hanya saja penggunaan huruf kapital di awal kalimat maupun kata tidak selalu diterapkan. Dan saya menambahkan kata jenis pada kalimat menerima segala cucian, agar makna penyampaiannya tepat dan jelas. 


Pada pamflet ini tulisan yang sesuai ejaan adalah “Layanan bus pariwisata.”

Karena kata bis adalah kata yang tidak baku. Dan penggunaan huruf kapital di satu kalimat itu tidak sesuai dengan EYD, huruf kapital yang digunakan dalam satu kalimat penuh terkesan berlebihan. Jika kalimat ingin diperjelas bisa menggunakan huruf bercetak tebal.


Pada pamflet tersebut secara keseluruhan sudah bagus, akan tetapi penggunaan huruf kapital secara keseluruhan tidak sesuai dengan penulisan EYD. 

Pada brosur ini cara penulisan yang benar adalah “Ikan bergizi tinggi, sehat, dan enak. Apapun jenis ikannya, lemak yang tedapat dalam ikan adalah lemak tak jenuh. Mudah cerna oleh tubuh dengan baik.”

Dalam brosur ini hanya kurang tanda baca saja, seperti tanda koma maupun tanda titik. Juga pada kata yang bercetak tebal yang mungkin untuk memperjelas kata tersebut, tetapi jika seperti itu maka makna kata yang bercetak tebal kurang jelas.

Pada iklan tersebut cara penulisan yang benar adalah “Seperti ada lemon lime-nya gitu.”

Karena kata kayak itu bukanlah kata baku. Dan juga huruf kapital yang digunakan seperti berlebihan, dalam penulisan ejaan yang disempurnakan huruf kapital tidak dapat digunakan dalam satu kalimat penuh. Tanda hubung yang digunakan saya rasa sesuai sama EYD karena untuk memperjelas hubungan bagian kata.

Cara penulisan yang benar adalah “Tempat ini diawasi cctv + security.”

Karena dalam  pemberitahuan tersebut banyak sekali penulisan yang salah, seperti sisi tv yang seharusnya itu adalah cctv. Dan kata di awasi seharusnya digabung karena kata awasi adalah kata kerja tidak menunjukkan kata tempat.

 

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 6

Nama  : Raden Tamimi  Alwani

NIM     : 201214013

Kelas    : 3A

Prodi    : PBSI

 

Esai Deskriptif

Kualanamu International Airport


Bandar udara internasional Kualanamu adalah sebuah bandar udara internasional yang ada di kota Medan, Sumatera Utara. Bandara ini terletak di kabupaten Deli Serdang, 23 km arah timur dari pusat kota Medan. Bandara ini adalah bandara terbesar keempat di Indonesia, setelah bandara internasional Soekarno – Hatta di Jakarta, bandara internasional Kertajati di Ciayumajakuning, dan bandara internasional Hang Nadim di Batam. Bandara ini untuk menggantikan bandara internasional Polonia yang telah beusia lebih dari 85 tahun. Badara Kualanamu ini diharapkan menjadi bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. 

Bandara ini dibuka pada 25 juli 2013. Pada 27 maret 2014, bandara ini diresmikan operasionalnya oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dengan ditandai oleh penandatanganan batu prasasti sebagai tanda resmi dibuka.

Di bandar udara Kualanamu Intenasional ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti:


§  Baggage claim

§  Bea cukai

§  Drinking water

§  Free internet

§  Golf car

§  Kantor imigrasi

§  Kantor kesehatan

§  Money changer

§  Musholla

§  Playground

§  Pos office

§  Premium parking

§  Rest area

§  Self bag drop

§  Self chek in

§  Smoking area

§  Toilet

§  Wayfinding


 

Dan masih banyak lagi. Saat pandemi covid – 19 ini Bandara Kualanamu menyiapkan dan meingkatkan sejumlah fasilitas bandara sebagai upaya perlindungan dari bahaya penyebaran covid – 19. Salah satu fasilitas yang ditingkatkan dan disesuaikan saat ini di Bandara Kualanamu adalah pemasangan pedal atau tombol kaki untuk mengakses lift, sehingga para pengguna lift dapat menekan tombol dengan alas kaki bukan dengan tangan, untuk menghindari setuhan langsung dari orang ke tombol lift.

Selain itu, terdapat juga fasilitas body scanner untuk memeriksa penumpang pesawat tanpa bersentuhan. Penumpang pesawat cukup masuk ke dalam mesin bodt scanner kemudian mesin tersebut melakukan pemeriksaan, apakah penumpang masik membawa barang tersembunyi ata tidak. Dan hasil pemeriksaan akan diinformasikan di layar monitor.

Saat ini xray bagasi telah dipasang UV Sterilizer. UV Sterilizer ini gunanya untuk menghilangkan virus, bakteri dan kuman. Dan seluruh wastafel yang ada di bandara Kualanamu sudah menggunakan sistem otomatis dan pengguna cukup menaruh tangan dibawah keran, lalu air mengalir. Di seluruh terminal juga terdapat mesin hand sanitizer otomatis yang dapat digunakan secara otomatis seperti wastafel.

 

FUNGSI BAHASA INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.

Undang – undang Nomor 24 Tahun 2009 menyebutkan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggan nasional, sarana pemersatu berbagai suku, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah. Bahasa dan sastra adalah produk budaya yang merupakan ikon penting bagi pembentukan identitas bangsa secara keseluruhan.

Setiap bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Indonesia juga merupakan simbol jati diri bangsa. Oleh karena itu bahasa Indonesia harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan dan secara terus – menerus harus kita kembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan bangsa kita dari bangsa – bangsa lain di dunia.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan bangsa, lambang identitas nasional, alat pemersatu dan alat komunikasi antardaerah dan antarkebudayaan. Sebagai lambang kebangsaan, bahasa Indonesia mampu mencerminkan nilai – nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebanggaan kita. Bahasa juga sebagai sarana komunikasi antar manusia yang kita sebut sebagai fungsi komunikatif. Selanjutnya bahasa yang fungsinya sebagai sarana budaya untuk mempersatukan kelompok manusia yang menggunakan bahasa disebut sebagai fungsi kohesif atau intregatif. Bahasa akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pergantian zaman.

 

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 9

NAMA  : RADEN TAMIMI ALWANI

NIM       : 201214013

KELAS    : 3A (PBSI)

 

TUGAS EYD PERTEMUAN KE – 9

Tugas hari ini adalah, DARI VIDEO YANG IBU BERIKAN:

1.      Susunlah menjadi teks drama percakapannya.

2.      Analisislah kesalahan ejaannya (kosa kata dan pengucapannya).

3.      Apakah dampak negatif dan positif bila anak-anak usia dini (SD) menonton video tersebut.

4.      Bagaimana peran guru dan orang tua terhadap tayangan video tersebut.

 

PENJELASAN

1.      Drama ini diperankan oleh dua anak perempuan yang beranggapan satu menjadi seorang Ibu dan satu lagi menjadi seorang anak dari Ibu tersebut. Drama ini berjudul

Ibu dan Anak ingin kaya raya

Ibu       : “Nak, gimana kita harus jual jinggal! Kita akan kara yara, kita akan bahagia dan

   Ibu akan jadi sombong!! (sambil mengipas rambut) mau kan?”

anak    : “Hm benar juga ya kata Ibu, tapi kalau ginjal aku sama ginjal ibu berbeda, lebih

   baik yang ibu jual itu ginjal ibu aja.” (sambil menunjuk perut ibu)

anak    : “Maksudnya ginjal aku kan karena ginjal aku gak bagus, rasa lain.”

Ibu       : “Bukan, jinggal Mama rasa asam jadi kamu aja ya?”

Anak    : “Engga Ibu aja, Ibu kan suka kaya jadi gimana ginjal ibu.”

Ibu       : “Kamu ga ngerti ya! asam dan bapakat.”

Anak    : “Biarin aja yang penting Ibu dapat untung!” (teriak)

Ibu       : (menangis)

Anak    : “Kenapa Ibu nangis?”

Ibu       : “Gak boleh kayak gitu Nak, itu dosa!!” (teriak)

~~Tamat~~

 

2.      Kesalahan ejaan pada video itu yaitu:

o   Jinggal, kata ini bermaksud organ tubuh manusia yaitu ginjal. Tapi kata yang diucapkan salah.

o   Kara yara, kosa kata yang digunakan salah. Kata yang benar seharusnya ‘kaya raya’ yang memiliki arti kaya sekali, atau seseorang yang mempunyai harta banyak sekali.

3.      Dampak negatif dan positif bila anak – anak usia dini (SD) menonton video tersebut.

Dampak negatifnya, yaitu:

Ø  Akan mencontoh untuk menjual ginjalnya

Ø  Anak – anak akan mengikuti kata dengan cara pengucapan ejaan yang salah

Dampak positifnya, yaitu:

Ø  Anak – anak jadi terhibur

 

4.      Peran guru terhadap penanyangan video tersebut, yaitu:

§  Memberitahukan kata yang benar dari kesalahan ejaan yang diucapkan,

§  Memberikan video lain yang lebih ada ilmu dan pengetahuannya,

§  Membimbing siswanya agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

 

Peran orang tua terhadap penanyangan video tersebut, yaitu:

§  Memberi arahan untuk tidak terus menurus menonton video yang tidak ada manfaatnya,

§  Memberikan contoh yang baik, karena anak merupakan peniru yang sangat andal, mereka akan cepat meniru perilaku yang ia lihat, meniru kata – kata yang ia dengar dan lain – lain.

 

 

TUGAS PERTEMUAN KE – 10 

MAKALAH

KESANTUNAN BAHASA

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah Ejaan Yang Di Sempurnakan

Dosen pengampu : Lisa Septia Dewi BR.Ginting.,S.Pd.,M.Pd


Disusun Oleh:

Raden Tamimi Alwani

201214013

3A

 

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan

T.A 2021 – 2022

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Kesantunan Bahasa untuk memenuhi tugas mata kuliah “Ejaan Yang Di Sempurnakan” dengan dosen pengampu Ibu Lisa Septia Dewi BR.Ginting.,S.Pd.,M.Pd. Saya menyadari tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan tugas ini. Akhir kata saya ucapkan terimakasih semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi pra pembaca.

 

                                                                                                            Medan, 19 November 2021

                                                                                                            Penulis,

                       

 

                                                                                                            Raden Tamimi Alwani

                                                                                                            NIM : 201214013

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I

Pendahuluan

1)      Latar Belakang

2)      Rumusan Masalah

3)      Tujuan Penulisan

4)      Manfaat Penulisan

 

BAB II

Pembahasan

1)      Pengertian Kesantunan Bahasa

2)      Fungsi Kesantunan Bahasa

3)      Prinsip – prinsip Kesantunan Bahasa

4)      Faktor Munculnya Bahasa yang Tidak Santun

 

BAB III

Penutup

1)    Kesimpulan

2)    Saran

 

Daftar Pustaka

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang

Bahasa merupakan instrument terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak dapat berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa bunyi suara atau tanda/ isyarat maupun lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, perasaan dll kepada manusia lain. Macam – macam bahasa di dunia sungguh beragam, terutama di Indonesia yang mempunyai banyak suku bangsa, budaya dan bahasa. proses menguasai bahasa melibatkan seperti latar belakang sosial penutur, kedudukan dan kebudayaan penutur dalam masyarakat. Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan sosial. Bahasa sudah menyatu dalam kehidupan manusia, sehingga manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.

 

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dikaidahkan. Dalam menggunakan bahasa, pikiran juga berperan untuk dapat menghasilkan suatu ucapan yang baik dan benar. Melalui bahasa dapat memungkinkan sesorang untuk menyesuaikan dirinya dalam lingkungan sosial. Tanpa adanya bahasa segala kegiata manusia dalam masyarakat tidak dapat terwujud dengan baik. Menurut Allan (Wijana, 1996:45) “Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas – aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat didalamnya. Dalam berbicara, penutur dan lawan penutur sama -  sama menyadari bahwa ada kaidah – kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi – interpretasi terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu.”

 

Bahasa juga merupakan alat atau sarana seseorang untuk belajar, bukan hanya sekedar belajar di sekolah namun belajar di lingkungan masyarakat seperti belajar bersosialisasi, belajar memahami etika berbicara dengan seseorang, dan belajar bagaimana menghormati lawan bicara dengan menggunakan bahasa yang santun. Santun bukan hanya sekedar dilihatkan dengan tingkah laku namun santun juga harus disesuaikan dengan tutur bahasa yang baik. Tuturan akan disebut santun apabila peserta pertuturan tidak terdengar memaksa atau angkuh, tuturan akan santun apabila penutur memperhatikan kata-kata serta bahasa yang akan disampaikan kepada lawan tutur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima (KBBI V) mengartikan kata santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang.

 

Berbahasa santun sangat penting diperhatikan karena dengan begitu seseorang telah menunjukkan sikap penghargaannya kepada orang lain serta memperlakukan manusia sebagaimana seharusnya manusia. Kehidupan yang harmonis antarindividu dalam masyarakat akan sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak memiliki etika dan sopan santun berbahasa. Kasus-kasus perkelahian yang sering terjadi baik itu antarindividu, antarkelompok, bahkan antarkampung dikarena ketidaksantunan dalam berbahasa. Oleh karena itu, kesantunan berbahasa ini perlu ditanamkan sejak dini khusus pada anak-anak yang belum mengerti etika atau yang sudah mengerti etika atau tatakrama karena penanaman nilai kesopanan sangat baik diajarkan sejak dini.

 

2.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas yang berkaitan dengan objek, ada beberapa masalah yang timbul yaitu:

1)      Jelaskan maksud dari kesantunan bahasa?

2)      Apa fungsi dari kesantunan bahasa?

3)      Apa sajakah prinsip – prinsip dari kesantunan bahasa?

4)      Bagaimana penyebab munculnya bahasa yang tidak santun?

 

3.     Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini yakni untuk mendeskripsikan:

1)      Mendapatkan informasi mengenai kesantunan bahasa

2)      Untuk mengetahui fungsi apa saja yang ada pada kesantunan bahasa

3)      Dapat mengetahui prinsip – prinsip kesantunan bahasa

4)      Untuk mengetahui faktor penyebab apa yang membuat bahasa tidak santun

 

4.     Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sedikit ilmu pada bidang kajian bahasa terutama pada kesantunan berbahasa. Hasil penulisan ini mampu memberikan informasi, manfaat yang diharapkan dari penulis ini adalah:

Ø  Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan mengenai kesantunan berbahasa.

Ø  Bagi masyarakat, untuk memberikan pemahaman baru pada masyarakat mengenai kesantunan berbahasa.

Ø  Bagi mahasiswa/I, untuk memberi pandangan pada mahasiswa atau referensi untuk menjadi arahan dalam penulisan selanjutnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

1. Kesantunan Bahasa

Kesantunan (Politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang diterapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan biasa disebut ‘tata krama’.

Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma – norma budaya, tidak hanyak sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur – unsur budaya yang ada dalam masyarakat disekitar tempat kita tinggal dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma – norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negative. Misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.

Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. Oleh karena itu, masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian, terutama dalam proses belajar mengajar bahasa. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut:

Ø  Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu.

Ø  Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu.

Ø  Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan sela diterapkan.

Ø  Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara.

Ø  Bagaimana sikap dan gerak-gerik keika berbicara.

Ø  Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan.

 

Tatacara berbahasa seseorang dipengaruhi norma – norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Jawa berbeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama – sama berbahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri sesorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma – norma budaya sebelum atau disamping mempelajari bahasa. Sebab, tatacara berbahasa yang mengikuti norma –norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa.

Kesantunan berbahasa tercermin dalam tata cara berkomunikasi melalui tanda verbal atau tata cara berbahasa. Tata cara berbahasa harus sesuai dengan unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Berbahasa dengan santun mewujudkan komunikasi yang efektif. Penggunaan bahasa yang sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya yang berbudi. Aktivitas berbahasa diperlukan prinsip kesantunan. Dalam berkomunikasi, norma itu tampak dari perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Perilaku verbal dalam fungsi imperatif misalnya, terlihat pada bagaimana penutur mengungkapkan perintah, keharusan, atau larangan melakukan sesuatu kepada mitra tutur, sedangkan perilaku nonverbal tampak dari gerak gerik fisik yang menyertainya.

Kesantunan berbahasa dapat dimaknai sebagai usaha seseorang untuk menjaga harga diri orang lain maupun dirinya sendiri. Brown dan Levinson (dalam Markamah, 2013: 153) menyatakan bahwa kesantunan berbahasa dimaknai sebagai usaha penutur untuk menjaga harga diri, atau wajah, pembicara maupun pendengar. Penutur maupun mitra tutur yang memperhatikan kesantunan dalam bertutur akan menimbulkan proses komunikasi yang baik. Penggunaan kata maupun kalimat dalam bertutur sangat mempengaruhi tingkat kesantunan.

Menurut Robin Lakoff (1973) menyatakan "kesantunan dikembangkan oleh masyarakat guna mengurangi friksi dalam interaksi pribadi". Menurutnya, ada tiga buah kaidah yang harus dipatuhi untuk menerapkan kesantunan, yaitu formalitas (formality), ketidaktegasan (hesitancy), dan kesamaan atau kesekawanan (equality atau cameraderie).

§  Formalitas berarti jangan terdengar memaksa atau angkuh.

§  Ketidaktegasan berarti berarti berbuatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur dapat menentukan pilihan.

§  Kesamaan atau kesekawanan berarti bertindaklah seolah-olah Anda dan mitra tutur menjadi sama.

 

2. Fungsi Kesantunan Bahasa

Chaer, (2010:79) mendefinisikan “fungsi kesantunan berbahasa terbagi menjadi lima, yaitu fungsi menyatakan (deklaratif), fungsi menanyakan (interogatif), fungsi menyuruh (imperative) termasuk fungsi melarang, fungsi meminta maaf, dan fungsi mengkritik”. Fungsi lawan tutur adalah fungsi komentar, fungsi menjawab, fungsi menyetujui termasuk fungsi menolak, fungsi menerima atau menolak maaf dan fungsi menerima atau menolak kritik. Untuk lebih jelas akan diuraikan berikut ini mengenai fungsi kesantunan berbahasa:

a)      Fungsi menyatakan (Deklaratif)

Fungsi menyatakan yakni kalimat yang hanya menyampaikan berita atau kabar tentang keadaan disekeliling penutur. Kalimat deklaratif umumnya digunakan untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita informasi tanpa mengharapkan egative tertentu. Namun, bukan berarti lawan tutur tidak boleh mengomentarinya, komentar bisa saja disampaikan sehubungan dengan informasi tuturan yang disampaikan penutur.

 

b)      Fungsi menanyakan (Interogatif)

Fungsi menanyakan dilakukan dengan bentuk kalimat bermodus interogatif. Dalam kalimat menanyakan dibentuk untuk mendapatkan egative berupa jawaban. Secara formal kalimat interogatif ditandai kata egat (?) pada bahasa tulis dan ditandai oleh kehadiran kata egat seperti apa, siapa, berapa, kapan dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.

 

c)      Fungsi menyuruh (Imperative)

Fungsi memerintah dituturkan dalam kalimat bermodus egativee. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi, sedangkan dalam bentuk tulisan kalimat egativee biasanya diakhiri dengan tanda seru (!).

Dardjowidjojo, (2003:105) mengatakan bahwa “Kalimat perintah atau egativee umumnya mewakili tindak ujaran direktif yang langsung. Pada umumnya respons terhadap tindak ujaran ini berupa perbuatan untuk melakukan sesuatu.” Fungsi kalimat imperative terbagi atas tiga bagian, yaitu fungsi menyuruh, fungsi melarang, dan fungsi menyetujui dan menolak.

 

d)     Fungsi meminta maaf

Fungsi meminta maaf biasanya dilakukan oleh penutur atau lawan tutur karena penutur atau lawan tutur merasa punya kesalahan atau telah dan akan melakukan ‘ketidak nyamanan’ terhadap mitra tuturnya. Di dalam bahasa Indonesia hanya ada sebuah kata untuk meminta maaf, yaitu kata maaf.

 

e)      Fungsi mengkritik

Mengeritik berarti menyebutkan keburukan, kekurangan, kekeliruan, atau kesalahan seseorang. Tuturan mengeritik bisa mengancam muka egative lawan tutur kalau dilakukan secara lugas. Oleh karena itu, untuk menghindari pelanggaran muka egative, lawan tutur kita harus menggunakan kalimat berputar, yang memberi dampak lebih santun daripada tuturan yang dikemukakan secara lugas. Dalam kesantunan berbahasa tidak hanya terdapat fungsi dari penutur melainkan juga dapat dilihat dari lawan tutur, yaitu fungsi komentar, fungsi menjawab, fungsi menyetujui, fungsi menolak, fungsi menerima atau menolak maaf, dan fungsi menerima atau menolak kritik.

 

3. Prinsip – prinsip Kesantunan Bahasa

Kesantunan berbahasa sebagai sesuatu yang lazim diterapkan dalam kehidupan sehari – sehari yang menjadi acuan dalam kajian ini, prinsip – prinsip kesantunan bahasa ini diambil dari teori yang dikemukakan oleh Leech (1993), sebagai berikut:

a.       Prinsip Kesopanan (Politeness Principle). Prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kesenangan, keuntungan rasa salut atau rasa hormat, pujian, kecocokan, dan bersimpati kepada orang lain, juga meminimalkan hal – hal tersebut pada diri sendiri. Dengan menerapkan prinsip kesopanan ini, orang tidak lagi menggunakan ungkapan – ungkapan yang merendahkan orang lain sehingga komunikasi akan berjalan dalam situasi yang kondusif. Contohnya,

b.      Penghindaran Pemakaian Kata Tabu. Pada kebanyakan masyarakat, kata – kata yang berbau seks, kata – kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan, dan kata – kata ‘kotor’ dan ‘kasar’ termasuk kata – kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari – hari, kecuali untuk tujuan tertentu. Contohnya ketika saya melihat anak kecil di sekitaran  rumah saya berbicara dengan teman sebayanya, mereka sedang main guli.

A : “Aduh, sesak berak aku tiba – tiba we pulang dulu aku ya.”

 

c.       Penggunaan Eufemisme (Ungakapan Penghalus). Penggunaan eufemisme ini perlu diterapkan untuk menghindari kesan negatif. Contohnya dapat diambil dari contoh diatas, kalimat yang digunakan tergolong tabu namun akan menjadi ungkapan santun apabila diubah menjadi lebih halus, seperti:

A : “We aku pulang dulu ya, tiba – tiba pingin buang air besar.”

Yang perlu diingat adalah eufemisme harus digunakan secara wajar, tidak berlebihan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata, bukan untuk memperhalus kata yang tabu maka, eufemisme justru berakibat ketidaksantunan.

 

d.      Penggunaan Pilihan Kata Honorifik (Ungkapan Hormat Untuk Berbicara & Menyapa Orang Lain). Penggunaan kata honorifik ini tidak hanya berkalu bagi bahasa yang mengenal tingkatan tetapi berlaku juga pada bahasa yang tidak mengenal tingkatan. Walaupun bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan, sebutan kata diri Engkau, Anda, Saudara, Bapak/bu mempunyai efek kesantunan yang berbeda ketika kita pakai untuk menyapa orang. Keempat kalimat berikut menunjukkan tingkat kesantunan ketika seseorang pemuda menanyakan seorang pria yang lebih tua.

(1) Engkau mau ke mana?

(2) Saudara mau ke mana?

(3) Anda mau ke mana?

(4) Bapak mau ke mana?

Dalam konteks ini, kalimat (1) dan (2) tidak atau kurang sopan diucapkan oleh orang yang lebih muda, tetapi kalimat (4) -lah yang sepatutnya diucapkan jika penuturnya ingin memperlihatkan kesantunan. Kalimat (3) lazim diucapkan kalau penuturnya kurang akrab dengan orang yang disapanya, walaupun lebih patut penggunaan kalimat (4).

 

Contoh lainnya, saat kurir paket kebingungan untuk mencari alamat rumah saya dan menelfon saya.

Kurir : “Halo, ini posisi rumah Anda disebelah mana ya? Aku kurir paket mau ngantar

pesanan mu.”

Saya : “Disebelah warung Buk Yanti, Bang. Abang lagi dimana ni?”

Kurir : “Oo oke, udah nampak ni warung Ibuk tu, bentar ya.”

Dalam percakapan tersebut, kurir paket tersebut tidak menggunakan pilihan kata honorifik, yaitu ungkapan hormat untuk berbicara kepada orang lain.

 

4. Faktor Munculnya Bahasa yang Tidak Santun

Meskipun banyak cara agar dalam berbahasa selalu santun namun, faktanya pemakaian bahasa di masyarakat sering menunjukkan ketidaksantunan dalam berbahasa. Faktor yang menyebabkan pemakaian bahasa menjadi tidak santun antara lain:

1) Penutur menyampaikan kritik secara langsung dengan kata kasar

            Komunikasi menjadi tidak santun jika penutur ketika bertutur menyampaikan kritik secara langsung kepada mitra tutur. Sebagai contoh, ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar dari demo mahasiswa yang mengkritik pimpinan dengan mengunakan istilah-istilah kasar. Komunikasi dengan cara seperti itu dinilai tidak santun karena dapat menyinggung perasaan mitra tutur yang menjadi sasaran kritik.

2) Penutur didorong rasa emosi ketika bertutur

            Ketika bertutur, penutur didorong rasa emosi yang berlebihan sehingga terkesan marah kepada mitra tutur.

3) Penutur protektif terhadap pendapatnya

            Ketika bertutur, seorang penutur kadang-kadang protektif terhadap pendapatnya. Hal demikian dimaksudkan agar tuturan mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain.

4) Penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur

            Ketika bertutur, penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur. Perhatikan contoh di bawah ini.

“Mereka sudah buta mata hati nuraninya. Apa mereka tidak sadar kalau BBM naik, harga barang-barang lainnya bakal membubung. Akibatnya, rakyat semakin tercekik.”

Tuturan di atas terkesan sangat keras dan intinya memojokkan mitra tutur. Tuturan dengan kata-kata keras dan kasar seperti itu menunjukkan bahwa penutur berbicara dengan nada marah, rasa jengkel, dan memojokkan mitra tutur.

5) Penutur menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur

Tuturan menjadi tidak santun jika penutur terkesan menyampaikan kecurigaan terhadap mitra tutur. Hal ini dapat dilihat pada data tuturan di bawah ini.

“Kawasan hutan lindung dan konservasi biasanya dialihfungsikan menjadi areal perkebunan, pertambangan, atau hanya diambil kayunya lalu ditelantarkan”.

Tuturan di atas berisi tuduhan penutur kepada mitra tutur atas dasar kecurigaan penutur terhadap yang dilakukan oleh mitra tutur, seperti “hanya diambil kayunya lalu ditelantarkan”, Tuturan demikian menjadi tidak santun karena isi tuturan tidak didukung dengan bukti yang kuat, tetapi hanya atas dasar kecurigaan.

Atas dasar identifikasi di atas, ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidaksantunan pemakaian Bahasa Indonesia.

·         Pertama, ada orang yang memang tidak tahu kaidah kesantunan yang harus dipakai ketika berbicara. Jika faktor ini yang menjadi penyebabnya, terapi yang harus dilakukan adalah memperkenalkan kaidah kesantunan dan mengajarkan pemakaian kaidah tersebut dalam berkomunikasi. Hal ini biasanya terjadi pada anak kecil yang memang belum cukup pengetahuannya mengenai kesantunan berbahasa Indonesia.

·         Kedua, ada orang yang sulit meninggalkan kebiasaan lama dalam budaya bahasa pertama sehingga masih terbawa dalam kebiasaan baru (berbahasa Indonesia). Jika faktor ini yang menjadi penyebabnya, terapi yang harus dilakukan adalah secara perlahan-lahan meninggalkan kebiasaan lama dan menyesuaikan dengan kebiasaan baru.

 

BAB III

KESIMPULAN & SARAN

1. Kesimpulan

Kesantunan berbahasa merupakan bagian dari adab atau tatakrama yang membedakan tingkat kecendikiaan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita harus tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannnya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif atau bahkan dianggap tidak berbudaya.

Berbahasa santun sangat penting diperhatikan karena dengan begitu seseorang telah menunjukkan sikap penghargaannya kepada orang lain serta memperlakukan manusia sebagaimana seharusnya manusia. Kehidupan yang harmonis antarindividu dalam masyarakat akan sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak memiliki etika dan sopan santun berbahasa.

 

2. Saran

Penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan dalam penulisan ini. Untuk itu penulis sangat berharap kepada penulis lain agar dapat mengkaji lebih dalam mengenai kesantunan berbahasa. Berdasarkan hasil serta kesimpulan yang sudah penulis sajikan diatas, maka saran dari penulis adalah kepada orang tua untuk memberikan pemahaman tentang kesantunan berbahasa pada anak – anaknya, agar saat berbicara dengan lawan tuturnya ia dengan cara berbahasa yang santun. Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia karena terbawa oleh budaya “tidak terus terang” dan menonjolkan perasaan.

 

Daftar pustaka

Mislikhah, St. “KESANTUNAN BERBAHASA.” International Journal Of Islamic Studies. 1, No 2. (2014). https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/jar/article/view/7384 (diakses 19 November 2021).

Febriasari, D & Wijayanti, W. (2018). “KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR”. Jurnal Kredo. Vol. 2, No. 1.

Kholisotin, L & Lastaria. (2017) “FUNGSI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI GURU DAN MURID DI LINGKUNGAN MIS AL JIHAD PALANGKA RAYA.” Anterior Jurnal. Vol. 17, No 1.

Anggraini, N. Rahayu, N & Djunaidi, B. “KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS X MAN 1 MODEL KOTA BENGKULU.” Jurnal Ilmiah Korpus. 3, No 1. (2019). https://ejournal.unib.ac.id/index.php/korpus/article/download/7345/3595  (diakes 21 November 2021).

Cahyani, D N. & Rokhamn, F. “Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi di Lingkungan Universitas Tidar: Kajian Sosiopragmatik.” Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 6, No 1. (2017).  Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (unnes.ac.id) (diakses 21 November 2021).

Agustini, R. “BENTUK KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA.” E-Jurnal Literasi. 1, No 1. (2017). https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/literasi/article/downloadSuppFile/9/58 (diakses 22 November 2021).

 

 

KUIS PERTEMUAN KE – 12

NAMA : RADEN TAMIMI ALWANI

NPM      : 201214013

KELAS    : 3A (PBSI)

KUIS

EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN

 

1.      Rincikan sejarah singkat  perkembangan  EYD?

Sejarah perkembangan EYD,

Pada 16 agustus 1972, pemerintah lewat Keputusan Presiden No 57 Tahun 1972 meresmikan lagi ejaan baru yang bernama ejaan yang disempurnakan (EYD). Diantara ejaan – ejaan sebelumnya, EYD yang paling awet karena ejaan ini mengatur secara lengkap tentang kaidah penulisan bahasa Indonesia, antara lain: tentang unsur bahasa serapan, tanda baca, pemakaian kata, pelafalan huruf ‘E’, penggunaan huruf kapitan dan penggunaan cetak miring. Selain itu huruf F, V, Q, X, dan Z yang kental dengan unsur bahasa asing, resmi menjadi bagian bahasa Indonesia.

Berikut bentuk perubahan ejaan bahasa Indonesia

1.      Fungsi Ejaan yang disempurnakan?

Fungsi EYD antara lain:

§  Pemersatu, pemakaian EYD dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa

§  Pemeberi kekhasan, pemakaian EYD dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya

§  Pembawa kewibawaan, pemakaian EYD dapat memperlihatkan kewibaawan pemakaiannya

§  Kerangka acuan, EYD menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang

§  Alat penyaring masuknya unsur – unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia

Di samping kelima fungsi yang telah disebutkan, EYD sebenarnya juga mempunyai fungsi yang lain. Secara praktis, EYD berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis. Dalam hal ini fungsi praktis itu dapat dicapai jika segala ketentuan yang terdapat di dalam kaidah telah diterapkan dengan baik.

 

2.      Tujuan Ejaan yang disempurnakan?

Tujuan EYD sebagai berikut:

·         Untuk menciptakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar

·         Untuk menghindari salah tafsir

·         Untuk mempermudah pengucapan

 

3.      Yang harus diperhatikan dalam Ejaan yang di sempurnakan?

Secara umum, hal – hal yang harus diperhatikan dalam EYD adalah:

a)      Pemakaian huruf, seperti huruf kapital dan huruf miring

b)      Penulisan kata

c)      Pemakaian tanda baca

d)      Penulisan singkatan dan akronim

e)      Penulisan angka dan lambang bilangan

f)       Penulisan unsur serapan

 

4.      Mengapa KBBI mengalami perubahan per 4 tahun sekali?

Karena perkembangan bahasa Indonesia yang semakin hari semakin banyak kata baru dan kata yang sudah ada sejak dulu memiliki makna - makna baru pula. Makanya, dalam 4 tahun sekali perlu adanya perbaikan atau perubahan dalam KBBI. Perbaikan – perbaikan itu dilakukan berdasarkan saran dan kritik masyarakat yang disampaikan kepada pusat bahasa.

Komentar