Langsung ke konten utama

SEJARAH ANGKOLA

NAMA    : RADEN TAMIMI ALWANI 
NIM        : 201214013
KELAS    : 4A (PBSI)

SEJARAH ANGKOLA

1. Sejarah Suku Angkola 

    Asal usul dan Peradaban Suku Batak. Suku Batak mempunyai identifikasi dari beberapa suku bangsa yang berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku ini memeluk agama seperti agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam Sunni. Ada juga yang memeluk kepercayaan trasional seperti tradisi Malim dan kepercayaan animisme (Sipebegu atau Parbegu). Etnis batak, dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000 dikategorikan antara lain Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Pakpak, dan Angkola.

Gambar 1. Sub Suku Batak.


Gambar 2. Kapur Barus.

    Pada abad ke - 6, pedagang - pedangang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di Sumatera Utara bagian pesisir barat. Tanah batak memiliki kapur barus yang bermutu tinggi, sehingga menjadi salah satu dagangan ekspor di samping kemeyan. Barus di serang oleh Sriwijaya pada abad ke 10. Hal tersebut menjadi penyebab terusirnya pedagang - pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa - masa berikutnya, perdagangan kapur barus banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang membentuk daerah jajahan di pesisir barat dan timur Sumatera Utara, daerah jajahannya dari Barus, Sorkam sampai Natal.

    Orang batak adalah penetur bahasa austronesia, dimana bahasa dan bukti arkeologi memberitahukan bahwa orang yang menggunakan bahasa austronesia berasal dari Taiwan yang berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu pada zaman neolitikum. Nenek moyang orang batak belum diketahui pertama kali berada di Tapanuli dan Sumatera Timur, karena belum ditemukan artefak neolitikum di wilayah Batak maka diduga nenek moyang Batak pindah ke Sumatera Utara pada zaman logam.


2. Identitas Batak

Ada tiga pendapat yang mengungkapkan mengenai identitas suku batak, yaitu:

1. R.W.Liddle mengatakan bahwa di Sumatera bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang kompak sebelum abad ke - 20. Bahkan sampai abad ke - 19, interaksi sosialnya hanya terbatas pada hubungan antar individu, kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan - satuan sosial dan politik yang lebih besar. Adanya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial.

2. Istilah "Tanah Batak" dan "Rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing, dan ini dikemukakan oleh J. Pardede dalam disertasinya.

3. Siti Omas Manarung (istri dari putra pendeta Batak Toba) menyatakan bahwa semua orang Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai batak, dan itu terjadi sebelum kedatangan Belanda, setelah Belanda datang merekalah yang membuat terpisahnya kelompok - kelompok tersebut.

Gambar 3. Parsaktian Pusuk Buhit.
Berbagai macam versi tentang asal usul suku Batak dari sebuah mitos yang menyatakan bahwa salah satu puncak di barat Danau Toba, Pusuk Buhit adalah tempat 'kemunculan' bangsa Batak. Mitos - mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.

    Terbentuknta masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, karena banyaknya keluarga - keluarga dari wilayah lain di Sumatera yang berpindah. Tradisi Karo diteliti oleh J. H. Neumann, berdasarkan sastra dan salinan dua tulisan setempat yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, marga Kembaren berasal dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil juga diduga menjadi pembentuk masyarakat Karo, karena saat adanya serangan dari pasukan Minangkabau pada abad ke - 14 untuk menguasai Barus, orang - orang Tamil yang berdagang di pantai barat lari ke pendalaman Sumatera. Sehingga terjadi banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari bahasa Tamil. 


3. Bahasa

Walaupun secara garis besar bahasa yang digunakan orang Batak adalah bahasa Batak dan ada juga beberapa yang menggunakan bahasa Melayu, tapi setiap golongan memiliki logat berbeda - beda seperti, orang Karo menggunakan logat Karo, logat Pakpak dipakai oleh Batak Pakpak, Batak Simalungun memakai logat Simalungun, dan orang Batak Toba, Angkola maupun Mandailing menggunakan logat Toba.


4. Kesenian

Suku Batak memiliki banyak kesenian, seperti

Memiliki dua tarian, yaitu:

  • Tari tor - tor, yang bersifat magis atau tarian yang dipercaya memiliki unsur mistis.
  • Tari serampang dua belas, yang hanya bersifat hiburan.

Sementara alat musik tradisionalnya, yaitu: 

  • Gong, merupakan alat musik sekaligus alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Batak, gong memiliki ukuran yang bervariasi.
  • Saga - saga, salah satu alat musik Batak Toba yang terbuat dari bambu.

Adapun warisan kebudayaan berbentuk kain adalah kain ulos, kain ini selalu digunakan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati, dan digunakan saat menari tor - tor. Kain ulos ini merupakan hasil kerajinan tenun suku Batak.

Gambar 4. Tari tor - tor dan Kain ulos.


5. Penyebaran Agama

A. Masuknya Islam

    Pada tahun 1345, Ibn Battuta mendatangi Sumatera Utara dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir. Sebelumnya masyarakat Batak tidak pernah mengenal islam, lalu islam disebarkan oleh pedagang Minangkabau dan banyak juga pedagang Minangkabau yang berkeluarga dengan perempuan Batak. Oleh karena itu secara perlahan meningkatlah pemeluk islam di tengah - tengah masyarakat Batak. 

    Awal abad ke - 19 ketika perang Paderi, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar - besaran pada masyarakat Mandailing dan Angkola. Saat perang Paderi terjadi di wilayah Toba, pasukan Minangkabau tidak dapat mengislamkan masyarakatnya, maka pada akhirnya mereka menganut agama kristen protestan dan kristen katolik. Masyarakat Karo dan Pakpak juga dilakukan pengislaman oleh kerajaan Aceh di Utara, kerajaan tersebut juga banyak berperan dalam hal itu. Sementara masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur juga banyak memberikan pengaruh islam ke wilayah Simalungun.

B. Masuknya Kristen

    Pada tahun 1861, misionaris pertama yang berasal dari Jerman sampai di sekitar Danau Toba dan melakukan pengkristenan oleh Dr. Ludwig Ingwe Nommensen pada tahun 1881. Nommensen pada tahun 1869, melakukan penerjemahan kitab perjanjian baru ke bahasa Batak Toba dan Tahun 1891 P. H. Johannsen menyelesaikan penerjemahan kitab perjanjian lama. Terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Terjemahannya tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa batak. 
     Pastor Sybrandus van Rossum selaku Pastor misionaris pertama yang melakukan misi Katolik di Tanah Batak, OFM.Cap masuk ke Balige yang merupakan jantung Tanah Batak pada tanggal 5 Desember 1934. Masyarakat Toba dan sebagian Karo menerima agam kristen dengan cepat, karena awal abad ke - 20 kristen telah menjadi identitas budaya mereka.


6. Kepercayaan

Saat suku Batak Toba belum mengenal agama, mereka meyakini bentuk kepercayaan religi tentang Mulajadi na Bolon, yang mempunyai kekuasaan di atas langis dan kekuasaan-Nya terpancar di dalam Debata Natolu.
Suku Batak mengenal tiga konsep terkait jiwa dan roh, yaitu sebagai berikut:
A. Tondi
    Adalah jiwa atau roh seseorang merupakan kekuatan, oleh karena itu nyawa pada manusia diberikan oleh tondi. Tondi ada sejak seseorang di dalam kandungan dan apabila tondi meninggalkan badan sesorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal. Dan akan diadakan upacara menjemput tondi dari sombaon yang menawannya.
B. Sahala
    Adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Tondi pasti dimiliki semua orang, tidak dengan sahala. Karena sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja.
C. Begu 
    Adalah tondi orang yang telah meninggal, yang perilakunya sama dengan perilaku manusia, tetapi hanya muncul saat malam hari.


7. Salam Khas Batak

Suku Batak terkenal dengan salam Horas, namun ada dua salam yang kurang populer di masyarakat yaitu Mejuah juah dan Njuah juah. Berdasarkan kelompok yang menggunakan salam Horas pun masih memiliki penyebutan yang berbeda - beda, seperti:

  • "Njuah - juah Mo Banta Karina!". Penyebutan dari masyarakat Pakpak.
  • "Mejuah - juah Kita Krina!". Penyebutan dari masyarakat Karo.
  • "Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!". Penyebutan dari masyarakat Toba.
  • "Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!". Penyebutan dari masyarakat Simalungun. 
  • "Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!". Penyebutan dari masyarakat Mandailing dan Angkola.


8. Kekerabatan

    Suku Batak memiliki dua bentuk kekerabatan yaitu secara garis keturunan (genelogi) dan sosiologis. Kekerabatan berdasarkan garis keturunan dilihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, karena semua suku Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis dilihat dari perjanjian maupun karena perkawinan. Kesatuan adat dalam tradisi Batak dilihat dari ikatan sedarah dalam marga, kemudian marga lain. Contohnya marga Harahap, kesatuan adatnya adalah marga Harahap vs marga lainnya. Terkait tradisi Batak yang bersifat dinamis yang berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah dan disesuaikan oleh waktu dan tempat. 
    Terdapat ajaran yang diumpamakan dalam bahasa Batak Toba, yaitu "Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul." Yang merupakan suatu teori agar kita tetap menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena teman terdekat kita adalah mereka. Walaupun yang dicari pertama dalam pelaksanaan adat adalah yang satu marga, tetapi tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan adat.
    Di tradisi Batak soal perkawinan, seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda marga (klan), jadi apabila ingin menikah harus mencari pasangan hidup dari marga lain. Beda halnya jika ingin menikahi seseorang yang bukan dari suku Batak, maka dia harus dijadikan anak oleh salah satu marga Batak yang berbeda. 


9. Ritual Kanibalisme

Berikut ini beberapa dokumentasi mengenai praktik (pelaksanaan) ritual kanibalisme di suku Batak pada zaman dahulu, antara lain:

  • Pada bulan april sampai september 1292, Marco Polo datang untuk melakukan penjelajahan di pesisir timur Sumatera. Ia menyebutkan bahwa ia bertemu dengan orang yang menceritakan masyarakat pendalaman yang disebut 'pemakan manusia'. Lalu Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat 'Battas'. Dia bisa menceritakan ritual tersebut, walaupun hanya tinggal di daerah pesisir dan tidak pernah bertemu dengan masyarakat pendalaman untuk membuktikan cerita itu.
  • Niccolo Da Conti (1395 - 1469), seorang Venesia menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatera, dalam perjalanannya yang panjang untuk misi perdagangan di Asia Tenggara dan mencatat kehidupan masyarakat. Ia menulis cerita singkat tentang penduduk Batak, berikut ini tulisannya "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus - menerus kepada tetangga mereka".
  • Pada tahun 1820 Thomas Stamford Raffles mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang - undang mengenai konsumsi daging manusi, dan menulis tentang pelanggaran yang dibenarkan. Raffles menyatakan bahwa "Suatu hal yang biasa ketika orang - orang sudah tua untuk bekerja, akan dimakan dan untuk siapapun yang melakukan kejahatan akan dimakan hidup - hidup" "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam, dan sedikit nasi"
  • Pada tahun 1840 - 1841 tanah Batak dikunjungi para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn. Junghuhn mengatakan tentang Battaer, artinya ritual kanibalisme yang terjadi di antara orang Batak. Ahli geografi tersebut meceritakan ia tiba di sebuah desa yang ramah saat setelah penerbangan yang berbahaya dan lapar, disana ia ditawarkan sebuah makanan daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya. Namun hal ini terkadang dilakukan agar orang yang datang untuk menjajah merasa takut setelah mendengarkan hal itu.
  • Pada tahun 1840-an Oscar von Kessel mengunjungi Silindung dan orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak dimana pezina dihukum dan dimakan hidup - hidup, dan itu diamati pada tahun 1844. Von Kessel menyatakan bahwa orang Batak menganggap kanibalisme itu sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan  diterapkan secara terbatas seperti pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata - mata atau pengkhianatan. Untuk keluarga korban diberi tanda agar mereka menerima keputusan masyarakat dan tidak berfikir untuk balas dendam, tanda yang diberikan seperti garam, cabe merah, dan lemon. 
  • Pada bulan agustus 1852, Ida Pfeiffer mengunjungi Batak walaupun ia tidak mengamati kanibalisme apapun, tetapi ia diberitahu bahwa "Tahanan perang diikat di sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, lalu darahnya diawetkan untuk minuman, dan terkadang dijadikan semacam puding dengan nasi. Bagian tubuh lainnya seperti telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik khusus raja. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati akan dibuat menjadi hidangan khas, sementara daging hanya dipanggang dan dimakan dengan garam. Dan para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar". 

Hilangnya ritual kanibalisme ini sejak 1890, karena pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di daerah yang mereka kendalikan. Berdasarkan rumor kanibalisme ini bertahan hingga awal abad ke - 20 dan telah jarang dilakukan sejak tahun 1816 karena adanya pengaruh dari agama pendatang.

Komentar